Langsung ke konten utama

Goresan Tinta #2


I Walk Alone




“Ini gila, asal kau tahu!!!!”
Oh yeah? I think no.”
“Kau—“
“Wha—“
GET OUT, PLEASE!!”

***

Di sepanjang jalan, aku menelusuri bangunan-bangunan kuno khas Belanda. Bangunan ini bercat putih pucat. Dan anehnya, bangunan tua ini mempunyai lorong tak berujung, tanpa pintu dan jalan keluar. Ya, seperti derita dalam kisah hidupku. Sakitnya menusuk kalbu yang mungkin akan ku bawa sampai ajal menjemputku.
Wahai pujangga yang dicinta, tidakkah kau bisa merasakan? Bagaimana perasaanmu ketika hari bahagia itu datang, kemudian tepat di mana kau harus bahagia, orang yang kau cinta  pergi dari pelukanmu? Masihkah ada harapan untuk bertahan?
            Oh, itu sungguh menyakitkan. Begitu pedih menyayat hati. Alunan kidung kematian membuat hatiku menjerit ngeri. Tak tertahankan sampai air mataku menetes satu, dua, tiga, dan tak dapat ku bendung lagi.
            Aku berhenti berjalan. Menyalakan obor yang nyaris redup oleh air mataku. Tiba-tiba aku melihat sepasang sejoli yang sedang memadu kasih, aku tertawa. Ya, tertawa keras hingga air mata pun berjatuhan lagi. Sampai rembulan datang silih berganti, aku masih tertawa, lalu menangis lagi. Membayangkan begitu bodohnya aku di lahirkan di bumi.
Awan mulai tampak kehitaman, Guntur pun mulai bersahutan. Burung-burung berlari kecil mencari tempat sandiwara yang aman, sebelum kemudian mereka mengepakkan sayap dan buliran air itu pun jatuh membasahi bumi lalu mengeluarkan aroma khas saat hujan tiba.
Ingatanku kembali bernostalgia ke masa lalu saat bersama Frans. Ketika mulut masih semanis kojek, dan ketika untaian kata bak rayuan Romeo Juliet dalam kisah Shakespeare. Namun nyatanya, bukan harapan yang kudapatkan, tapi kepahitan yang memang sesungguhnya terjadi di depan mata. “Hou je van me?” aku berkata menyelidik, namun penuh harap.
“Sorry, ik kan het niet.” Frans tak acuh dengan raut wajah datar.
“Waarom?!”
“Het spijt me.. Het spijt me..”
“...”

***

Kini aku disini. Berjalan dengan meratapi dan menyesali seorang diri. Selalu menyalahkan diri sendiri karena telah menodai diri. Mungkin saat ini aku adalah manusia paling serakah dan gila. Yang tak tahu malu dan terus memaksakan diri untuk berbuat hina menodai agama. Pernah suatu hari aku ingin bunuh diri dan melakukan aborsi. Tapi niat itu ku urungkan lantaran ku ingat pesan Ibu agar bersikap bijak dalam mengambil keputusan.
Aku masih tertawa dalam sepi. Tertawa hingga tak ada seorang pun yang berani menatap wajahku. Aku mengambil sebilah pisau yang ku selipkan di kantong sweaterku. Ujungnya runcing. Warnanya perak mengilat tertimpa sinar rembulan.
Perlahan namun pasti, ku dekatkan urat nadiku ke ujung pisau. Ku sayat perlahan hingga air hujan menyemburatkan warna merah segar. Tapi, lihatlah sekali lagi! Aku masih bisa tertawa. Tertawa riang bersama para malaikat yang membawaku ke alam lain. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan Tinta #8

My Destiny Aku tidak tahu sejak kapan aku berada disini—tempat di mana aku tak menemukan seorang pun dalam hidupku. Terasa pengap dan sempit, membuat tubuhku tak dapat bergerak leluasa. Hei, apa aku buta? Ataukah aku lumpuh? Tidak mungkin. Aku masih bisa melihat dengan jelas, bahkan aku juga bisa merasakan tangan halus yang membelai kakiku saat kutendang-tendangkan jemariku.             Hmm, rasanya sungguh nyaman ketika tangan halus itu terus membelai kakiku. Hingga aku tak menyadari pukul berapa aku terlelap tidur tanpa mimpi indah. Dan, di saat pagi tiba, aku mendengar suatu keributan kecil di luar ruangan.             “Sudahlah, ini demi kebaikanmu juga. Apa perlu aku bersujud agar kau percaya padaku bahwa aku tidak sedang bermain-main?”             “Sayang, apalah arti diriku dengan seorang manusia mun...

Goresan Tinta #9

A Journey Seminggu lagi, musim dingin akan menghampiri California—tempat di mana aku menjadi imigran setelah bertahun-tahun menetap di Benua Asia bagian Tenggara. Kau tahu? Ternyata hidup di luar negeri tidaklah mudah. Dengan empat musim dan sifat orang-orang yang terlalu.. yeah . Egois. Kata orang, inilah Jet-lag . Perlu beradaptasi dalam kurun waktu tertentu. Malam ini, ditemani kuncup bunga poppy dan bintang-bintang yang berserakan bebas di langit, aku tengah bersiap-siap mengemasi barang di Apartemen. “Biarkan aku ikut denganmu.” John tiba-tiba muncul dari belakang pintu kamarku. Oh, sial! Aku mulai muak ketika mataku saling beradu pandang dengan mata birunya. Mata yang benar-benar membuatku terlena untuk selalu mengasihinya. “ No, I can do it by myself .” balasku tak acuh.             “ Well — I know. Tapi.. lihatlah,” kata John sambil mengarahkan pandangan ke arah perutku. Aku semakin risih dibuatnya. Sejenak,...

Goresan Tinta #4

<!--[if !mso]> <![endif] Article "All about Japanԅ(ˆ⌣ˆԅ)"   Gomen kudasai, Mina-san! Ohayō gozaimasu ^o   ^ Ogenki desuka? =) Yōkoso! kita bertemu lagi nih, dan aku berharap kalian semua nggak pernah bosan ngintipin sedikit-sedikit blogg-ku yang ku ciptakan JUST untuk kalian (?)    Kali ini, aku ingin membahas tentang negeri Sakura, alias negara Jepang. Entah setan apa yang udah berhasil merasuki diriku untuk menulis tentang Jepang, yang pasti lambat laun aku sangat menyukai negara ini. Jangan lihat dari sisi negatifnya lho yaw~ tapi lihat dari sisi baiknya negara Jepang itu seperti apa. Right? Oke, langsung aja. Kalau sudah baca, aku ucapkan pada mina-san, Dōmo arigatō gozaimasu! :))) Nah, ini nih → Kiat Hidup di Jepang ( じょうたつのコツ ) 1. Yang dimaksud dengan Ko-so-a-do kotoba adalah kata tunjuk kore, sore, are dan kata tanya dore yang artinya "yang mana". Kotoba sendiri artinya "kata". Ko-so-a-do kotoba dipergunakan jug...